1.
Pendahuluan
a.
Latar Belakang
Tasawuf berkembang menjadi cabang ilmu keislaman tersendiri yang
menekankan penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya. Seluruh ibadah dalam Islam yang diatur di dalam syari’ah
bertujuan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Kaum sufi tidak
hanya melakukan ibadah secara formal sesuai dengan ketentuan syariah, tetapi
juga berusaha menangkap rahasia syari’ah yang dapat membawa mereka lebih dekat
lagi kepada Allah, mereka memberi perhatian yang sangat besar terhadap kualitas
dan kuantitas terhadap ibadah formal itu dengan berbagai latihan yang telah
diatur sedemikian rupa agar kesucian jiwa dan kedekatan diri mereka kepada
Allah dapat mereka rasakan.
Filsafat yang mendasarinya menurut Harun Nasution adalah hakikat
berikut, pertama, Tuhan bersifat immateri, bukan fisiknya yang bersifat materi.
Kedua, Allah Mahasuci. Yang dapat diterima Tuhan untuk mendekati-Nya
adalah jiwa yang suci, dengan demikian manusia dapat mendekati Allah adalah
manusia yang jiwanya suci karena Allah Mahasuci[1]
Dalam akhlak tasawuf banyak tokoh-tokoh terkenal para ulama tasawuf
yang patut kitaketahui dan sangat menarik untuk kita bahas. Adapun dari
sekian banyak tokoh yang mungkin diantaranya adalah: Hasan al Basri, Rabiatul
Adawiyah, Zunnun al Misri, Ibnu Arabi, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj,
Nuruddin al Raniri, Hamka, dan ulama lainnya. Mayoritas sufi memang laki-laki,
namun dalam dunia tasawuf dikenal seorang sufi perempuan yang masyhur dengan
panngilan Rabiah al- Adawiyah.



