Wednesday 6 May 2015

Biografi dan Tasawuf Rabiah al-Adawiyah



1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang
Tasawuf berkembang menjadi cabang ilmu keislaman tersendiri yang menekankan penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Seluruh ibadah dalam Islam yang diatur di dalam syari’ah bertujuan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Kaum sufi tidak hanya melakukan ibadah secara formal sesuai dengan ketentuan syariah, tetapi juga berusaha menangkap rahasia syari’ah yang dapat membawa mereka lebih dekat lagi kepada Allah, mereka memberi perhatian yang sangat besar terhadap kualitas dan kuantitas terhadap ibadah formal itu dengan berbagai latihan yang telah diatur sedemikian rupa agar kesucian jiwa dan kedekatan diri mereka kepada Allah dapat mereka rasakan.
Filsafat yang mendasarinya menurut Harun Nasution adalah hakikat berikut, pertama, Tuhan bersifat immateri, bukan fisiknya yang bersifat materi. Kedua, Allah Mahasuci. Yang dapat diterima Tuhan  untuk mendekati-Nya adalah jiwa yang suci, dengan demikian manusia dapat mendekati Allah adalah manusia yang jiwanya suci karena Allah Mahasuci[1]
Dalam akhlak tasawuf banyak tokoh-tokoh terkenal para ulama tasawuf yang patut kitaketahui dan sangat menarik untuk kita bahas.  Adapun dari sekian banyak tokoh yang mungkin diantaranya adalah: Hasan al Basri, Rabiatul Adawiyah, Zunnun al Misri, Ibnu Arabi, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj, Nuruddin al Raniri, Hamka, dan ulama lainnya. Mayoritas sufi memang laki-laki, namun dalam dunia tasawuf dikenal seorang sufi perempuan yang masyhur dengan panngilan Rabiah al- Adawiyah.

Rabia’ah al- Adawiyah adalah sufi wanita yang memberi nuansa tersendiri dalam dunia tasawuf dengan pengenalan konsep mahabbah. Sebuah konsep pendekatan diri kepada Tuhan atas dasar kecintaan, bukan karena takut atas siksa ataupun mengharap surga-Nya. Sebagaimana syair “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu, karena takut pada neraka,maka bakarlah aku di dalam neraka. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,campakkanlah aku dari dalam surga. Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu, yang Abadi kepadaku”.
Cinta Rabi’ah merupakan cinta yang tidak mengharap balasan. Rabi’ah adalah seorang zahidah sejati. Beliau merupakan pelopor tasawuf mahabbah, yaitu penyerahan diri total kepada “kekasih” (Allah) dan ia pun dikenang sebagai ibu para sufi besar (The Mother of The Grand Master). Hakekat tasawuf adalah Habbul-ilah ( mencinta Allah SWT).
Menurut riwayatnya Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutna ia beribadah, bertaubat, dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kesederhanaan dan menolak segala bantuan material  yang diberikan orang kepadanya. Dalam berbagai doa yang dipanjatkannya ia tak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhuddan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan.[2]
Mengingat keberadaannya sebagai salah satu sosok sufi perempuan yang terkenal diantara para sufi laki-laki, maka dalam makalah ini dibahas mengenai Rabiah al-Adawiyah dan ajaran-ajaran tasawuf yang beliau sebarkan.

b.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah biografi Rabiah al-Adawiyah?
2.      Bagaimanakah ajaran tasawuf yang dibawa oleh Rabiah al-Adawiyah?
c.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui biografi Rabiah al-Adawiyah
2.      Untuk mengetahui ajaran tasawuf yang dibawa oleh Rabiah al-Adawiyah
2.      Pembahasan
A.       Biografi Rabiah al-Adawiyah
Dalam sejarah Islam, wanita Sufi sudah menampakkan dirinya pada periode sangat awal, dan dalam perkembangan evolusif penghargaan terhadap para Sufi oleh orang-orang muslim, penghargaan terhadap kesucian diberikan sama tingginya antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Sejauh pembahasan mengenai “sahabat-sahabat Tuhan” ini dibicarakan, maka tidak akan ada perbedaan dalam jenis kelamin tersebut.
Perkembangan Sufisme dalam Islam memberikan kesempatan luas pula kepada kaum perempuan untuk mencapai gelar keSufian itu. Tujuan utama pencapaian kaum Sufi adalah untuk dapat menyatu denga Yang Maha Suci, dan dalam pencarian Tuhan itu, mereka telah meninggalkan keindahan dan daya tarik gemerlapnya dunia, untuk dapat menyatu dengan Yang Esa. Dan keinginannya itu, menggelora membakar api cintanya kepada Tuhan, secara terus-menerus, guna mencapai tujuan paling akhir. Menggapai pencerahan dalam kehidupan, bersama kegembiraan dan kegairahannya, dan perenungan kehidupan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya dapat mencapai makrifat dan menggapai bayang-bayang Tuhan, dimana sang pecinta tersebut akan menjadi satu dengan Yang Dicintainya, dan kekal bersama-Nya selamanya.
Konsep hubungan antara Sufi dengan Tuhannya tersebut tidak memberikan ruang perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan spiritual “tidak memperdulikan laki-laki maupun perempuan.”[3] Gelar keSufian ini akan dapat dicapai dengan mengikuti jalur Tuhan untuk menyatu dengan-Nya. Dan bagi mereka yang mencapainya akan mendapat derajat tinggi dalam kehidupan spiritualnya di dunia.
Tingginya kedudukan yang dapat diraih oleh para Sufi perempuan dibuktikan oleh adanya kenyataan bahwa kaum Sufi itu ternyata memberikan kedudukan utama bagi kaum perempuan. Para Sufi pada masa-masa awal telah menjadikan kaum perempuan sebagai wakil yang representatif dari perkembangan pertama Sufisme dalam Islam.[4]Tersebutlah Rabiah, seorang Sufi perempuan yang suci, perempuan pembebas dari Al-Atiq suku Qays bin ‘Adi. Terkenal dengan sebutan Al-Adawiyah atau Al-Qaysiyah atau juga disebut Al-Bashriyah, tempat di mana ia dilahirkan.
1)      Masa Kecil Rabiah al-Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah bernama lengkap Rabi’ah bin Ismail Al- Adwiyah Al-Bashriyah Al- Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95H/ 713 M atau 99 H/ 717 M disuatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat dikota bashrah pada tahun 185H/800M.[5] Mengenai kelahirannya ada juga yang menyebut tahun 714 M. hal ini dikarenakan sangat gelapnya kehidupan orang tuanya pada saat ia dilahirkan.[6] Dalam sumber lain disebutkan bahwa Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah seorang  perempuan sufi yang  mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Seorang wanita yang alur kehidupannya tidak seperti wanita pada umumnya, ia terisolasi dalam dunia mistisme jauh dari hal-hal duniawi.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Khalkan saat mengutarakan biografi Rabiah Adawiyah, bahwa namanya adalah Ummul Khair Rabiah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah al-Qisiyah. Ia merupakan symbol utama paradigma kehidupan ruhani Islam pada kurun kedua hijriah.[7]
Sayangnya tidak ada seorang penulis pun, yang sangat dekat dengan masa kehidupannya dan mengungkapkan tentang kisah awal kehidupannya sebagai bahan, kecuali hanya karya Aththar yaitu Tadzkiratul Aulia (Memoir of The Sains). Banyak dari apa yang ia kisahkan tersebut sebagai karya legendaris asli. Memberikan gambaran-gambaran kenyataan sejarah. Paling tidak, memberikan gambaran tentang kepribadian dan keagungan namanya.
Disaat malam datang, ditengah gelap gulita, tibalah saatnya sang ibu melahirkan anak keempatnya.[8]Rabiah dilahirkan di tengah keluarga termiskin, peristiwa-peristiwa ajaib tak jarang terjadi di masa kelahirannya. Aththar mengatakan bahwa pada malam kelahirannya tidak terdapat minyak di dalam rumahnya, tidak juga penerangan lainnya.[9]
Bahkan tidak terdapat kain bedung untuk membungkus bayi yang baru lahir itu. Ayahnya telah memiliki tiga putri sebelumnya, dan oleh karena itulah ia diberi nama Rabiah (artinya putri ke empat). Ibunya meminta agar ayahnya mencari minyak kepada tetangganya untuk lampu penerangan itu, tetapi ia telah berucap janji atau sumpah bahwa tidak akan meminta bantuan kepada sesama manusia. Maka kembalilah ia tanpa membawa apa yang dibutuhkannya. Di saat ia tertidur malam itu dalam keadaan tertekan karena tidak memiliki sesuatu pun di saat kelahiran putrinya, ia bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad dan bersabda, “ Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh tujuh ribu ummatku.”
Kemudian Nabi bersabda lagi, “ Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Bashrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jumat sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jumat ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”[10]
Ayah Rabiah terbangun dan menangis; ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menulis surat serta mengirimkannya kepada Amir melalui pembawa surat pemimpin itu. Ketika Amir telah selesai membaca surat itu, ia berkata: “ Berikan dua ribu dinar kepada orang miskin itu sebagai tanda terimakasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orangtua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku; akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan jenggotnya.[11]

2)      Masa Remaja Rabiah al-Adawiyah
Meskipun telah terjadi peristiwa pertanda baik itu, Aththar menceritakan kemalangan yang terjadi dalam keluarga ini. Pada saat Rabiah menjelang dewasa, ayah dan ibunya meninggal. Jadilah ia seorang anak yatim piatu. Kelaparan melanda Bashrah dan semua saudaranya terpencar berpisah. Suatu hari, ketika ia sedang berjalan ke luar kota, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk, lalu menarik serta menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada suatu keluarga yang berasal daru kaum Mawali Al-Atik, yang masih ada hubungannya dengan Bani Adwa, dan nama lengkap yang dipakainya adalah nama umum yang dipakai pada saat itu. Al-Atik berasal dari suku Qais, dari sinilah ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah.[12] Dan laki-laki yang membelinya itu menjadikan rabiah budak yang berkerja keras terus-menerus
Kehidupan hamba sahaya penuh dengan penderitaan yang selalu datang silir berganti, kemampuan Rabi’ah untuk mengunakan alat musik dan menyanyi dimanfaatkan oleh majikannya yang haus akan harta dunia. Rabi’ah sadar benar akan darinya sebagai hamba sahaya dan diperas sedemikian rupa oleh majiannya, membuat ia selalu meminta petunjuk dan bimbingan kepada Tuhan. Dipagi hari dan dimalam hari adalah waktu untuk bermunajat kepada Tuhan. Rabi’ah yakin benar bahwa ada suatu waktu pertolongan Tuhan akan datang dan Tuhan tidak akan menyia-nyiakan hamba-nya yang selalu menderita dan mendekatkan diri kepada-Nya.[13]
3)      Masa Dewasa Rabiah al-Adawiyah
Dalam salah satu riwayat diakatakan, dia adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan.[14] Saat itu tuannya mendengar rintihannya dan doanya. Hal ini sangat menyentuh hatinya hingga akhirnya ia pun memerdekakannya. Setelah merdeka, kehidupan Rabi’ah tetap lurus dalam jalan dan petunjuk AllahSWT. Dengan kebebasan yang diperolehnya, ia curahkan hidupnya di masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian agama. Ia kemudian menjalani kehidupan sufi dengan beribadah dan merenungi hakikat hidup. Tidak ada sesuatupun yang memalingkan hidupnya dari mengingat Allah.[15]
 Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan yang diberikan orang lain kepadanya. Bahkan didalam Doa’anya ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam kehidupan zuhd dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan.
Menurut riwayat dari Imam Sya’rani, pada suatu masa adalah seorang yang menyebut-nyebut azab siksa neraka dihadapan Rabi’ah, maka pingsanlah beliau lantaran mendengar hal itu, pingsan didalam menyebut-nyebut istighfaar memohon ampunan Tuhan. Tiba-tiba setelah beliau siuman dari pingsannya dan sadar akan dirinya, beliaupun berkata “saya mesti meminta ampun lagi dari pada cara meminta ampun saya yang pertama.”[16]
Kalau fajar tiba, dia tidur beberapa saat sampai fajar lewat. Diriwayatkan pula bahwa setiap bangun tidur dia berkata: “Duh jiwa! Berapa lama kamu tertidur dan sampai dimana kamu tertidur, sehingga hampir saja kau tertidur tanpa bangkit lagi kecuali oleh terompet hari kebangkitan!” demikianlah hal ini dilakukan setiap hari hingga ia meninggal dunia.[17]
4)      Pernikahan Rabiah al-Adawiyah
Rabi’ah Al-dawiyah yang seumur  hidupnya tidak pernah menikah, Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu menolak lamaran-lamaran pria salih, termasuk lamaran Amir Abbasiyah dari basrah tahun 145 H, yang meninggal pada 172 H yakni Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi. Ia mengajukan mahar perkawinan sebesar seratus ribu dinas dan menulis surat kepada Rabiah bahwa ia memiliki gaji sebanyak sepuluh ribu dinar tiap bulan dan akan diberikan semaunya kepada Rabiah.[18] Cara menolak lamaran Amir tersebut dikatakan: “Seandainya engkau member warisan seluruh harta warisanmu, tidak mungkin aku memalingkan perhatianku dari Allah padamu.”[19]
Selain Amir Abbasiyah dari Bashrah, dikisahkan juga tentang seorang gubernur yang menulis surat kepada rakyat Bashrah agar mencarikan seorang istri. Seluruh rakyat setuju pada Rabiah, dan ketika ia mengajukan lamaran dijawab oleh Rabiah: penolakan terhadap dunia ini adalah perdamaian, sedangkan nafsu terhadapnya akan membawa kesengsaraan. Kendalikan nafsumu dan jangan biarkan orang lain mengendalikanmu. Bagimu, pikirkanlah hari kematianmu, sedangkan bagiku, Allah dapat memberiku semua apa yang telah engkau tawarkan itu dan bahkan berlipat ganda. Aku tidak suka dijauhkan dari Allah walaupun hanya sesaat. Karenanya, selamat tinggal.[20]
Menurut kisah lain ada juga ulama besar yang datang kepada Rabiah untuk melamarnya. Antara lain, Abdul Wahid bin Ziad, Hasan al Basri (642 M/728M)[21], Malik bin Dinar (w. 748M)[22] dan Tsabit al-Banani. Mereka duduk layaknya sebuah majlis, Hasan membuka pembicaraan dan membahas mengenai anjuran Nabi untuk menikah. Saat itu Rabiah menyanggupi akan memilih satu diantara mereka jika mereka mampu menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Namun ketiganya tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya sejumlah ulama yang hadir menangis, dan keluar dari rumah Rabiah denga penuh penyesalan.[23]
Karena semua pertanyaan yang Rabiah ajukan hanya bisa dijawab oleh-Nya. Rabiah sadar bahwa dengan menerima tangan pria lain dalam ikatan pernikahan, hanya akan membuat dia tidak adil terhadap suami dan anak-anaknya, ia tidak mampu memberikan perhatian kepada mereka, karena seluruh hatinya hanya untuk Allah semata. Rabiah tidak menikah bukan menikah bukan semata-mata zuhud terhadap pernikahan itu sendiri, akan tetapi karena memang ia zuhud terhadap kehidupan ia sendiri.[24]
Adapun pemikiran Rabiah mengenai pernikahan yakni: “Akad nikah adalah bagi pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud (ada) dan telah lepas dari diriku. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akad nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku”.[25]

5)      Akhir Hayat Rabiah al-Adawiyah
Rabi’ah mencapai usia kurang lebih 90 tahun, bukan semata-mata usia yang panjang, tapi merupakan waktu yang penuh berkah hidup yang menyebar di sekelilingnya, suatu kehidupan yang menyebarkan bau wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya, bahkan sampai sekarang hikmah dari ajaran-ajarannya masih dapat dirasakan.
Terdapat silang pendapat di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Rabi’ah, baik mengenai tahun maupun tempat penguburannya. Mayoritas ahli sejarahnya meyakini tahun 185 H sebagai tahun wafatnya, sedangkan tempat penguburannya, mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa kotakelahirannya sebagai tempat menguburkannya.[26]

B.  Ajaran dan Tasawuf Rabiah al-Adawiyah
1)      Tasawuf Mahabbah
Pada masa itu, yang berkuasa di Basrah adalah Bani Umayyah. Hidup mewah mulai meracuni masyarakat terutama di kalangan istana. Melihat kondisi demikian, kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban untuk menyerukan pada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam kemewahan. Sejak saat itu, kehidupan zuhud mulai menyebar luas di kalangan masyarakat.
Menurut at-Taftazani, karakteristik asketisme (zuhud) islam pada abad pertama dan kedua hijriah adalah sebagai berikut:
  1. Asketisisme ini didasarkan ide menjauhi hal-hal dunia demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari azab neraka.
  2. Asketisisme ini bercorak praktis dan para pendirinya tidak menaruh pendirian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya itu.
  3. Motivasi asketisisme ini adalah rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan yang sungguh-sungguh.
Demikianlah perkembangan tasawuf pada masa Rabi’ah al-Adawiyah yang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan sufi Rabi’ah al-Adawiyah.[27] Tingkat zuhud yang tadinya direncanakan oleh Hasan al Basri, yaitu takut dan pengharapan telah dinaikkan oleh Rabi’ah kepada zuhud karena cinta,[28] dalam hal ini berarti bahwa tiada yang pantas kecuali Tuhan satu-satunya yang menjadi objek kezuhudannya (cinta yang transenden).
Tokoh yang memperkenalkan ajaran mahabbah ini adalah Rabiah al-Adawiyah. Baginya Tuhan adalah zat yang dicintai dan rasa cintanya yang mendalam hanya kepada Tuhan. [29]Hal ini didasarkan pada ungkapan-ungkapan yang menggambarkan bahwa ia menganut paham tersebut.[30]
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan  atau cinta yang mendalam.[31]Dalam  mu’jam al-falsafi, jamil shabila mengatakan Mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci.[32] Al-Mahabbah dapat pula berarti al-wudud, yakni yang sangat kecil atau penyayang.[33] Mahabbah dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.[34]Makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah SWT, karena akhirat adalah mendatangi Allah SWT serta bertemu dengan-Nya.[35]
Selain itu al-mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cinta seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintanya, orang tua pada anaknya, seseorang pada sahabatnya, suatu bangsa terhadap tanah airnya, atau seorang pekerjaan kepada pekerjaannya. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sunguh-sunguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada Allah.
Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukan pada  suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah objeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa mahabbah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Allah. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan, pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain:
1.      Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
2.      Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
3.   Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang dikasihi, yaitu Tuhan.[36]
Sementara itu adapula pendapat yang mengatakan bahwa al-Muhabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam kedudukan maupun dalam pengertiannya. Kalau ma’rifah adalah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (al-qalb), maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta (Roh).[37] Al-Hubb mengandung pengertian terpadunya seluruh kecintaan hanya kepada Allah yang menyebabkan adanya rasa kebersamaan dengan-Nya. Seluruh jiwa dan segenap ekspresinya hanya di isi oleh rasa cinta dan rindu kepada Allah, rasa cinta dan rindu yang tumbuh karena keindahan dan kesempurnaan Zat Allah, tanpa motivasi lain kecuali hanya kasih Allah.[38]
Konsep cinta Rabi’ah Adawiah mengantarkan kita pada wacana baru bahwa ia tidak memiliki kepentingan apapun  dalam ketaatanya terhadap Allah. Ia tidak berharap akan surga dan takut akan neraka, cinta yang suci murni itu lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Cinta yang  suci murni tidaklah mengharapkan apa-apa.  ketaatan terhap Allah dilakukan semata-mata  karena Cintanya Terhadap Allah. Ini  adalah suatu tingkatan spiritual yang dianggap tingkatan tertinggi dalam tasawuf bagi orang –orang setelahnya.
Sebagian dari kalangan orientalis seperti Nicholson[39] menganggap bahwa urgensi Rabi’ah adalah kemampuanya dalam memberikan warna baru dalam memberikan kezuhudannya Islam yang sebelumnya identik dengan ketakutan sebagaimana zuhud dalam perspektif Hasan al Basri. Hal baru sebagaimana diterangkan diatas bahwa Kosep “cinta” yang digunakan oleh manusia sebagai perantara manusia untuk melihat keindahan Allah yang Azali. Bahkan Rabiah juga merupakan sufi yang menembangkan lirik-lirik kecintaan terhadap Tuhan, baik melalui syair-syair atau tulisan biasa.
Rabi’ah al- Adawiyah dalam perkembangan mistisisme dalam islam tercacat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Rabiah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah. Sikap dan pandangan Rabi’ah Al-Adawiyah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Rabiah telah memperluas makna atau lingkup cinta ilahi.
Ia dulunya mencintai Allah karena mengharapkan surga-Nya, atau takut neraka-Nya, sehingga ia selalu berdoa, “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang selalu takwa padaMu?” Setelah menyadari, bahwa cinta seperti itu adalah cinta yang amat sempit, ia meningkatkan dirinya, sehingga ia luluh dalam cinta Ilahi. Ia mencintai Allah, karena Allah patut dicintai, bukan karena takut neraka, atau mengharapkan surga-Nya. Dengan pendiriannya itu ia ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi “pekerja wanita yang tidak baik”, seorang yang meninggalkan pekerjaan yang tidak baik, lalu melakukan kebaikan dengan mengharapkan ganjaran, yaitu surga.[40]
Yang menjadi dambaan dan  harapan Rabiah hanyalah memandang wajah Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia. Dan merasakan kebahagiaan dengan berada di dekat-Nya pada hari berbangkit. Rabiah membayangkan andaikan surga atau neraka, supaya dapat diketahui siapa hamba Allah yang hakiki, yaitu hamba yang mengabdi pada-Nya dengan seikhlas-ikhlasnya, tanpa mengharapkan surga atau takut pada siksa neraka. Agar dengan demikian dapat diketahui siapakah yang menyembah Allah SWT, Karena Dia adalah Khalik yang mampu memberikan kebahagiaan, tidak takut karena azab, atau mengharapkan ganjaran.
Rabi’ah adalah seorang zahidah sejati. Memeluk erat kemiskinan demi cintanya pada Allah. Lebih memilih hidup dalam kesederhanaan. Definisi cinta menurut Rabi’ah adalah cinta seorang hamba kepada Allah Tuhannya. Ia mengajarakan bahwa yang pertama, cinta itu harus menutup yang lain, selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta, yaitu bahwa seorang sufi harus memalingkan punggungnya dari masalah dunia serta segala daya tariknya. Sedangkan yang kedua, ia mengajarkan bahwa cinta tersebut yang langsung ditujukan kepada Allah serta mengesampingkan yang lainnya dengan tanpa pamrih sama sekali. Ia harus tidak mengharapkan balasan apa-apa. Dengan Cinta yang demikian itu, setelah melewati tahap-tahap sebelumnya, seorang sufi mampu meraih ma’rifat sufistik dari “hati yang telah dipenuhi oleh rahmat-Nya”.
Pengetahuan itu datang langsung sebagai pemberian dari Allah dan dari ma’rifat inilah akan mendahului perenungan terhadap Esensi Allah tanpa hijab. Rabi’ah merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber keberagamaan dalam sejarah tradisi sufi Islam. Cinta Rabi’ah merupakan cinta yang tidak mengharap balasan. Justru, yang dia tempuh adalah perjalan mencapai ketulusan. Sesuatu yang diangap sebagai ladang subur bagi pemuas rasa cintanya yang luas, dan sering tak terkendali tersebut.
Hendaklah manusia mencintai Allah, hingga Allah SWT menjadi yang paling dicintai daripada yang lain. Bahkan tidak mencintai sesuatu pun, kecuali cinta kepada-Nya. Adapun sebab terjadinya rasa cinta terhadap sesuatu yang dicintai itu, adakalanya karena adanya kesempurnaan yang mengagumkan atau karena mendapatkan perhatian khusus dari yang dicintainya itu.[41]
Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan. Sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya. Kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya.
2)      Kisah dan Syair Rabiah al-Adawiyah
Rabiah tidak meninggalkan ajaran secara tertulis langsung dari tangannya sendiri, melainkan ajarannya dikenal melalui para muridnya dan baru ditulis beberapa lama setelah wafatnya.[42] Sepanjang perjalanan hidupnya, Rabiah telah banyak melahirkan karya-karya berupa syair yang sangat melegenda. Beberapa kisah dan syair Rabiah al-Adawiyah antara lain:
Diriwayatkan  ada seorang pencuri pada suatu hari memasuki rumahnya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di rumah Rabiah kecuali sebuah kendi. Ketika pencuri itu hendak keluar, Rabiah menegurnya:
Rabiah: O jika engkau memang seorang cerdas, maka engkau jangan keluar dengan tangan kosong.
Pencuri: aku tidak menemukan apa-apa.
Rabiah: Sayang sekali! Berwudhulah dengan air kendi ini lalu masuklah ke kamar ini dan lakukanlah shalat sebanyak dua rakaat. Engkau harus keluar membawa sesuatu.
Pencuri itu melakukan apa yang disuruh Rabiah padanya. Ketika ia sedang melaksanakan shalat, Rabiah menengadahkan kepalanya ke langit sambil bermohon.

Ya Allah Tuhanku. Orang ini telah datang berkunjung ke rumahku, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari rumahku. Karena itu, janganlah Engkau biarkan ia pergi dengan tangan hampa, tanpa mendapat kurnia dan pahala dari-Mu.”
Setelah pencuri itu selesai melaksanakan sholat, ia merasa amat berbahagia, karena hatinya terasa lega. Oleh karena itu ia terus beribadah sampai larut malam. Pada waktu fajar, Rabiah datang menemuinya sedang bersujud. Dalam sujudnya ia bermohon pada Allah, memohon ampun dan menyesali perbuatan dirinya: Hai diri, bila Allah telah datang memanggil, Apakah engkau tidak malu berbuat durhaka?
Dosa telah menutupi setiap kejadianku Aku datang penuh dosa Apa yang akan kukatakan pada-Nya Bilamana Dia mencelaku
.[43]
“Ya Allah, Ya Tuhanku, orang itu telah berdiri di depan pintu-Mu, maka terimalah ia dan aku telah berdiri di depan-Mu memohon sudilah kiranya Engkau mengabulkan permohonanku.” Sayup-sayup, terdengar seolah-olah terdengar bisikan dalam hati Rabiah, “Kami telah menerima permohonanmu.”
Rabiah tidak menyembah atau mengabdi pada-Nya oleh karena pamrih. Oleh karena itu, ia selalu berkata:
“Ya Allah, jadikanlah neraka tempat bagi orang-orang yang membangkang, dan jadikanlah surga bagi orang-orang yang menaatiMu. Namun, untukku cukuplah keridhaan-Mu saja.” Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Rabiah, “Apa pendapatmu tentang surga?” Rabiah menjawab “Yang penting tetangga dulu, baru rumah, atau surga.”
Al-Attar meriwayatkan, bahwa Rabiah selalu menangis sehingga orang-orang bertanya padanya:
 “Mengapa engkau menangis, apakah karena engkau menderita karena-Nya?” Rabiah menjawab, “Oh, nasib penderitaan dan sakit yang aku derita tak seorang pun dokter akan mampu mengobatinya. Mereka tak akan mampu menolongku menghilangkan derita ini, kecuali jika harapanku telah terwujud di alam lain yaitu ketika aku melihat wajah-Nya yang Maha Mulia.”[44]
Jika bukan karena surga atau neraka, untuk apa seseorang menyembah Allah? Mengapa orang taat kepada-Nya? Kemudian hatinya yang bergelora dengan cinta dan kerinduan berseru,:
“Ya Allah, jika aku menyembahmu karena takut pada neraka-Mu bakarlah aku dengan api neraka-Mu. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkanlah surga-Mu untukku. Tapi jika aku menyembah-Mu demi mencintai-Mu, maka limpahkanlah padaku ganjaran yang lebih baik.[45] Berikan aku kesempatan melihat wajah-Mu demi mencintai-Mu, Berikan aku kesempatan melihat wajah-Mu yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Al-Kalabadzi meriwayatkan, sekelompok orang datang melihar Rabiah untuk menanyakan kesehatannya. Mereka bertanya:
Bagaimana keadaanmu? ” Rabiah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu penderitaan yang aku derita sekarang ini. Aku merasa seolah-olah digoda oleh surga, sehingga hatiku hampir tertarik pada surga. Namun, aku merasakan seolah-olah Tuhan mencela diriku”.[46]
Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat, Ra bi’ah menyatakan doanya.
“Tuhanku, akankah Kau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?” Tiba-tiba terdengar suara, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami”.[47]
Berikut syair Rabiah al-Adawiyah:[48]
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.
Cinta dibaginya atas dua tingkat. Pertama cinta karena kerinduan. Dirindui sebab Dia memang puncak segala keindahan, sehingga tidak ada lagi yang lain yang jadi buah kenangannya dan buah tuturnya, melainkan Tuhan, Allah, Rabbi. Yang kedua yaitu keinginan dibukakan baginya hijab, selubung, yang membatas di antara dirinya dengan Dia. Itulah tujuannya, yaitu melihat Dia (musyahadah)[49] Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci orang lain.[50]
Sebuah contoh menceritakan tentang cahaya dengan kerinduan hati yang terbakar semata-mata ditempati oleh ketakutan kehilangan Allah, tampak dalam dialog sebagai berikut. Ia ditanya:
Apakah Anda cinta setan, wahai Rabi’ah, ataukah membencinya?”
Dijawab Rabi’ah, “Cintaku yang begitu besar kepada Allah, sepenuhnya melarangku untuk membenci setan
Para penanya masih memaksanya, dan terus mengajukan pertanyaan:
Apakah Anda cinta Nabi dan kedamaian atas beliau?”
Dan Rabi’ah menjawab, “Demi Allah, aku sangat mencintainya. Tetapi cintaku kepada Sang Pencipta telah terisi penuh dan mencegahku dari cinta terhadap makhluk.”
Kata-kata ini tidak pernah dimaksudkan sebagai ketidakimanan terhadap Nabi. Jawaban itu dimaksudkan bahwa tidak ada ruang yang tersisa dalam hatinya untuk mencintai sesuatu dengan tulus kecuali Allah. Dalam bukunya The Rainks Of The Saints, al-Manawi berkata:
“Dalam doa-doanya, Rabi’ah menyerahkan dirinya seribu kali siang dan malam dan ketika ditanya,
Apakah yang Anda cari dengan semua ini?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mencari pengajaran. Aku mengerjakan semuanya barangkali Allah dan Nabi berkenan, dan menyampaikan kabar kepada Nabi-nabi lainnya, ‘Lihat, ada seorang perempuan dari ummatku dan inilah karyanya’.”
Oleh karena itu, Rabi’ah ingin mencintai Nabi, damai bersamanya, ia berharap semua perempuan merasa dimuliakan dengan apa yang dilakukannya. Ia mencintai Nabi dan berharap berjumpa dengan beliau pada Hari Pembalasan.[51]




















3.      Penutup
Dapat disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad ke II Hijrah telah merintis konsep zuhud dalam tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi ia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, dan sebagainya. Dia adalah sosok wanita yang sitimewa karena namanya senantiasa tertulis bersama dengan jajaran nama-nama sufi lainnya. Dia mampu menjaga hatinya untuk tetap istiqomah dalam menjaga hatinya untuk mencintai Allah hingga akhir hayatnya.
Tidak ditemukan tulisan, lukisan, maupun coretan Rabi’ah yang dapat dianggap sebagai ekspresi keagamaan Rabi’ah. Bahkan ide tasawuf yang dikembangkannya, mahabbah, yang dikenal hingga sekarang baru ditulis beberapa muridnya beberapa saat setelah ia wafat. Meski demikian, dua macam ekspresi verbal dan motoris yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah telah cukup melukiskan ekspresi keagamannya.








Daftar Pustaka
Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Tasawuf Islam Telaah Historis dan Perkembangannya, 2008, Jakarta:Gaya Media Pratama: Jakarta.
 
Abuddin Nata,, Akhlak Tasawuf, 2011, Jakarta: Rajawali Pers.
Al-Kalabadzi , At-Ta’aruf Li-Mazdhab Ahli-T-Tasawuf, Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Asep Usman Ismail, dkk, Tasawuf, 2005, Jakarta: Pusat Studi Wanita.
Al-Ghazali, Anhafa-S-Sadati-Muttaqin, Mesir: Al-Maṭbaʿ Al-Maymanya.
Widad El Sakkakini, Pergulatan Hidup Perempuan Suci Rabi’ah al-Adawiyah, 1999, Surabaya: Risalah Gusti.
Ahmadi Isa, Tokoh-Tokoh Sufi Teladan Kehidupan yang Soleh, 2001, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Asmaran,  “Pengantar Tasawuf edisi Revisi”, 2002, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Aththar, Tadzkirat al-Aula I, Mesir:Al-Ma’arif,t.t.
Azyumardi Azra, ”Ensiklopedia Tasawuf”, 2008, Bandung: Angkasa.
Farid As-Sin Al-Arththar, Muslim Saints And Mystics, 1979, terj. A.J Arberry, Routledge dan Kegal Paul.

Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi Tokoh dan Pemikirannya, 2000, Surabaya: Risalah Gusti

Hamka, “Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya”, 1994, Jakarta: PT Pustaka Panjimas.
Harun Nasution, Falsafah Dan Mistisisme Dalam Islam, cet. III,1983, Jakarta: Bulan Bintang.
-------------------,Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, cet, XII, 1986, Jakarta:Panji Mas.
-------------------, Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992. Jakarta: Djambatan.
Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin Upaya Menghidupkan Ilmu Agama, 2004, Surabaya: Bintang Usaha Jaya Surabaya.

Jamil Shabila, Al-Mu’jam Al-Falsafy, jilid II, 1978, Mesir: Dar al-Kitab.
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, 1990, Jakarta: Hidakarya.
Margaret Smith, Rabiah: Pergulatan Spiritual Perempuan. 1997. Penerjemah Jamilah Baraja, Surabaya: Risalah Gusti.
----------------------- Mistisisme Islam dan Kristen Sejarah Awal dan Pertumbuhannya. Penerjemah: Amroeni Dradjat, 2007. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Muhammad Atiyah Khamis, Rabiah Al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, terjem. Aliudin Mahjudin, 1991, Pustaka Firdaus: Jakarta.


Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, 2002, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudirman, Tebba, Tasawuf Positif, 2003, Bogor: Kencana 2003.
Sayid Abdullah, Titian Menuju Akhirat, 2005, Surabaya: Amelia Surabaya.
Sururin, Rabiah Al-Adawiyah Hubb Al-Ilahi, 2002, Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Suryadilaga, al-Fatih, Miftahus Sufi. 2008. Yogyakarta: Teras.
Syahrin Harahap, dkk, “Ensiklopedi Aqidah Islam”, 2003, Jakarta:Kencana.
Syed Ahmad Semait, 100 Tokoh Wanita Terbilang, (Singapore: Pustaka Nasional Pte Ltd, 1993











footnote nya hubungi penulis yaa....makasihh

1 comment:

  1. Alhamdulillah sangat membantu sekali, terimakasih atas ilmunya

    ReplyDelete