Showing posts with label Pascasarjana. Show all posts
Showing posts with label Pascasarjana. Show all posts

Monday, 15 June 2015

Resensi

  
 Judul : Dialog Tasawuf Kiai Said; Akidah, Tasawuf & Relasi Antarumat Beragama
Oleh   : KH. Said Aqil Siroj
Tebal  : 152 hal
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Penerbit : Khalista Surabaya


Buku ini berisikan Tanya jawab  atau dialog dengan tentang sebuah tema yang merefleksikan kehidupan beragama bagi masyarakat Indonesia dengan menggunakan pendekatan sufistik. Terdapat 3 (tiga) bagian besar yang pada tiap-tiap bagian terdapat sub bab yang berkaitan dengan 3 tema atau bagian besar tersebut. Bagian pertama membahas mengenai Aqidah, bagian kedua membahas mengenai Tasawuf, dan bagian ketiga membahas mengenai Antar Umat Beragama.
Masyarakat modern yang bersifat totaliteristik (ingin menguasai semua aspek kehidupan), eksploris, dan hanya percaya kepada rumus-rumus empiris saja, serta sikap hidup positivistis yang hanya berdasar kemampuan akal, pada gilirannya akan menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Dalam ranah ini, tasawuf sebagai wujud ihsan dalam risalah yang dibawa Rasulullah SAW memainkan perannya menjadi problem solving untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan.

Wednesday, 6 May 2015

Ajaran Pokok Tasawuf : Maqaamat dan Ahwal


Ajaran Pokok Tasawuf : Maqaamat dan Ahwal
1.      Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun  pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari khalayak ramai. Mereka adalah orang yang berhati baik, pemurah dan suka menolong.[1]
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. banyak pengertian tasawuf yang dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh. defenisi tasawuf yang dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh.

Biografi dan Tasawuf Rabiah al-Adawiyah



1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang
Tasawuf berkembang menjadi cabang ilmu keislaman tersendiri yang menekankan penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Seluruh ibadah dalam Islam yang diatur di dalam syari’ah bertujuan menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Kaum sufi tidak hanya melakukan ibadah secara formal sesuai dengan ketentuan syariah, tetapi juga berusaha menangkap rahasia syari’ah yang dapat membawa mereka lebih dekat lagi kepada Allah, mereka memberi perhatian yang sangat besar terhadap kualitas dan kuantitas terhadap ibadah formal itu dengan berbagai latihan yang telah diatur sedemikian rupa agar kesucian jiwa dan kedekatan diri mereka kepada Allah dapat mereka rasakan.
Filsafat yang mendasarinya menurut Harun Nasution adalah hakikat berikut, pertama, Tuhan bersifat immateri, bukan fisiknya yang bersifat materi. Kedua, Allah Mahasuci. Yang dapat diterima Tuhan  untuk mendekati-Nya adalah jiwa yang suci, dengan demikian manusia dapat mendekati Allah adalah manusia yang jiwanya suci karena Allah Mahasuci[1]
Dalam akhlak tasawuf banyak tokoh-tokoh terkenal para ulama tasawuf yang patut kitaketahui dan sangat menarik untuk kita bahas.  Adapun dari sekian banyak tokoh yang mungkin diantaranya adalah: Hasan al Basri, Rabiatul Adawiyah, Zunnun al Misri, Ibnu Arabi, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj, Nuruddin al Raniri, Hamka, dan ulama lainnya. Mayoritas sufi memang laki-laki, namun dalam dunia tasawuf dikenal seorang sufi perempuan yang masyhur dengan panngilan Rabiah al- Adawiyah.

Friday, 24 April 2015

KONSEP DESA DAN KOTA PERSPEKTIF AL-QURAN (URBAN SUFISM)


Pendahuluan
A.    Latar Belakang

Zaman modern dengan segala capaian budaya dan teknologinya sedikit banyak menyumbang andil pada keringnya dimensi spiritualitas manusia. Kepentingan ekonomi dan politik nyatanya benar-benar melemparkan manusia ke gurun nihilisme tanpa batas. Yang terjadi kemudian adalah munculnya krisis moralitas yang menjangkiti manusia modern. Parahnya, manusia seakan tidak lagi acuh akan rambu-rambu kehidupan. Segala adagium mengenai moralitas, etika dan tata nilai sosial telah lama diklaim sebagai hal yang anakronis, tidak lagi relevan dengan gaya hidup modern. Tidak mengherankan ketika pada akhirnya penyakit sosial masyarakat modern semakin hari kian akut. [1]
Di tengah keterjebakan manusia pada problematika-problematika sosial ternyata timbul keresahan pada diri manusia. Raibnya Tuhan dan agama dalam kehidupan menimbulkan ‘kerinduan’ tersendiri bagi masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan besar. Di satu sisi, banalitas, hedonisme dan nihilisme kehidupan yang sehari-hari dikecap kaum urban perkotaan tersebut merupakan ladang yang subur bagi tumbuhnya benih-benih spiritualitas keagamaan yang baru (new religious spirituality). Salah satu yang mengemuka kemudian adalah maraknya kemunculan sufisme urban (urban sufism) atau beberapa kalangan menyebutnya dengan sufisme kota. Fenomen ini menarik bukan hanya sebagai momentum bangkitnya kembali spirit agama di tengah kepungan westernisasi yang menggila. Lebih dari itu, kemunculan sufisme urban nyatanya telah menyapukan warna tersendiri bagi khazanah kebudayaan Islam.Terlepas dari kontroversi dan kritik yang turut mengiringi kemunculannya, sufisme urban telah menjadi ruang tersendiri bagi jiwa-jiwa yang rindu untuk mereguk nikmatnya dimensi-dimensi spiritualitas agama.[2]

MUSLIM MINORITAS DALAM FILM 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA: PERSPEKTIF REPRESENTASI




 
Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dikatakan makhluk sosial karena manusia sebagai individu saling membutuhkan dan saling berinteraksi dengan manusia atau individu lainnya. Oleh sebab itu manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan orang lain pada hidupnya untuk saling memberi, menolong, dan melengkapi satu sama lain.
Adapun pengertian interaksi sosial menurut Effendi[1] adalah berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antar individu, kelompok sosial, dan masyarakat. Dalam hal ini berarti bahwa manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari hubungan dengan manusia lainnya. Interaksi juga berarti bahwa setiap manusia saling berkomunikasi dan mempengaruhi bisa dalam pikiran maupun tindakan.
Dalam kehidupan sebagai masyarakat sosial, terutama sebagai warga Negara Indonesia yang hidup dengan lingkungan yang multi etnis, agama, ras, dan budaya dibutuhkan sikap toleransi. Toleransi terutama toleransi dalam beragama dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai. Kehidupan yang harmonis dalam bermasyarakat hanya akan menjadi sebatas wacana jika sikap toleransi tidak dipupuk sejak dini. Toleransi umat beragama sangat penting untuk menjaga kesatuan bangsa. Tujuan yang lebih luasnya  untuk menjaga perdamaian dunia.
Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini.