Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Friday, 24 April 2015

Matur Suwon Nggeh Le...


Dia anak laki-laki satunya dikeluargaku, dan satu-satunya anak dari bapak dan ibu yang tidak menempuh pendidikan di pesantren. Bukan tanpa alasan, bisa dibilang dia tidak ke pesantren juga karena keegoisanku. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, aku memilih untuk menuntut ilmu diluar kota, begitupun kakak perempuanku bahkan hingga detik ini. Dan dia sendiri selalu bilang tidak mau di pesantren jika dirumah tidak ada yang menemani bapak dan ibu. Ia khawatir bapak dan ibu akan kesepian dirumah dan tidak ada yang membantu kesibukan bapak dan ibu dirumah. Biasanya ibu selalu bilang "ben enek sen dikongkon".

Kita bisa memanggilnya Dek David, tapi aku sendiri lebih nyaman memanggil dia "Le', panggilan yang membuatku lebih dekat dengan dia secara emosional. Dia memang lebih dekat atau lebih tepatnya lebih takut kepadaku dibanding dengan kakaku. Tak heran ketika adekku sedang bermain atau pulang telat ibuku selalu menyuruhku menelfon dia. Karena jika aku telfon dia akan langsung pulang. Biasanya selalu ada ancaman sih hehe.

Thursday, 5 February 2015

Tetap Panggil aku Kanting Bapak...


opo ting?

Kata-kata itu sangat familiar ditelingaku semenjak kecil beliau selalu memanggilku "kanting" entah apa artinya aku jua tak tahu. Yups...beliau adalah laki-laki terhebat yang belum pernah aku temui tandingannya didunia ini. Tangguh, disiplin, penyayang, bertanggungjawab, meskipun sedikit bicara atau bisa dibilang agak pendiam. Beliau dilahirkan di kampung kecil di Kota Ponorogo tepatnya di Pereng. Beliaupun dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, meskipun aku belum pernah bertemu dengan kakek nenek yang telah melahirkan bapak, setidaknya aku banyak mendengar cerita Bapak tentang beliau. Kakek nenekku seorang petani yang mempunyai lahan sekedarnya, untuk menyekolahkan anak-anaknya termasuk bapakku, mereka harus bekerja keras. Itulah sebabnya bapak tidak pernah meminta uang saku ke nenek, karena jika sekali saja bapak meminta uang saku maka nenekku harus menjual hasil panennya terlebih dahulu, demi beberapa sen uang saku. Padahal bapakku 6 bersaudara dan masih mempunyai adik yang tentunya lebih membutuhkan hasil panenan untuk makan sehari-hari. Berangkat sekolahpun bapak harus berjalan kaki kekota karena tidak mempunyai kendaraan. Akhirnya pendidikan SMA pun beliau tamatkan dengan susah payah.