Thursday, 5 February 2015

Tetap Panggil aku Kanting Bapak...


opo ting?

Kata-kata itu sangat familiar ditelingaku semenjak kecil beliau selalu memanggilku "kanting" entah apa artinya aku jua tak tahu. Yups...beliau adalah laki-laki terhebat yang belum pernah aku temui tandingannya didunia ini. Tangguh, disiplin, penyayang, bertanggungjawab, meskipun sedikit bicara atau bisa dibilang agak pendiam. Beliau dilahirkan di kampung kecil di Kota Ponorogo tepatnya di Pereng. Beliaupun dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, meskipun aku belum pernah bertemu dengan kakek nenek yang telah melahirkan bapak, setidaknya aku banyak mendengar cerita Bapak tentang beliau. Kakek nenekku seorang petani yang mempunyai lahan sekedarnya, untuk menyekolahkan anak-anaknya termasuk bapakku, mereka harus bekerja keras. Itulah sebabnya bapak tidak pernah meminta uang saku ke nenek, karena jika sekali saja bapak meminta uang saku maka nenekku harus menjual hasil panennya terlebih dahulu, demi beberapa sen uang saku. Padahal bapakku 6 bersaudara dan masih mempunyai adik yang tentunya lebih membutuhkan hasil panenan untuk makan sehari-hari. Berangkat sekolahpun bapak harus berjalan kaki kekota karena tidak mempunyai kendaraan. Akhirnya pendidikan SMA pun beliau tamatkan dengan susah payah.

Monday, 19 January 2015

Aku Memang Ndeso


 desaku yang dulu bukanlah yang sekarang...
mungkin plesetan lagu dari "Tegar" cocok untuk merepresentasikan suasana kampungku saat ini. Dulu...pendidikan tinggi masih jarang dijumpai. mayoritas pendidikan mereka sampai SD, setamat dari SD hanya ada 2 pilihan. menikah yang mayoritas dengan sesama tetangga, atau bekerja keluar kota sebagai PRT. atau menjadi TKW diluar negeri. suasana mengaji dan sekolah dimadrasah masih ramai, tidak ada satupun anak yang gengsi ketika menjadi pengurus masjid, mengajar ngaji, dan aktif dengan kegiatan di madrasah. apapun latar pendidikannya, hampir semua anak dikampungku mampu melafalkan ayat al-Quran dengan fasih, mengetahui tajwid, dan tahu ilmu agama. sangat jarang sekali yang melanjutkan studi, bukannya tidak mau tetapi memang kondisi ekonomi yang memaksakan mereka berhenti mengenyam bangku sekolah. 

Saturday, 22 November 2014

Suporter Bola VS Pendukung Presiden



Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya ‘like’ di fanpage facebook di berita-berita online abal-abal tentang pendukung Jokowi yang katanya menarik dukungan. Ada yang komen ‘alhamdulilah si A telah terbuka hatinya’ ada yang nulis ‘tu kan…si B aja nyesel milih Jokowi, untung dulu aku nggak milih Jokowi’. Dan umpatan-umpatan lain yang intinya mereka senang para pendukung Jokowi pada mengkritik kebijakan pemerintahan sekarang. Umumnya sih status ini ditulis oleh pendukung kubu yang lain dalam pilpres, yang ingin menunjukkan seolah-olah pilihan pendukung Jokowi adalah salah besarr.

Friend, but Called Family (part 1)



Diawali pada pertengahan tahun 2011 kalau nggak salah diawal semester 3. Waktu itu ada program rekruitmen ICP (International Class Program) untuk semua mahasiswa  angkatan 2010. Yang pada akhirnya ada 16 mahasisa/I yang dinyatakan lolos dan bisa bergabung. Naasnya dari 16 anak, hanya 3 orang yang berasal dari kelas lamaku. Sedangkan 13 yang lain berasal dari kelas yang berbeda dan sangat asing. Kebetulan aku termasuk type orang yang tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan cepat ber-suudzon dengan orang yang baru dikenal. Nggak heran, hamper 3 bulan aku kuliah dikelas yang benar-benar asing dan nggak asik sama sekali. Jangankan mau interaksi, mau “nyawang” temen sendiri aja males.

Oskab Syirkah



Judulnya memang aneh, dan aku yakin tidak semua orang bias memahami  maksud dari tulisan itu. Oskab adalah sebutan untuk makanan khas Indonesia yaitu bakso. Hanya saja dipesantren ditempatku dulu menimba ilmu sering disebut dengan oskab. Sedangkan syirkah itu sendiri diambil dari bahasa arab yang artinya kantin.

Oskab memang bukan makanan langka untukku saat ini. Bagaimana tidak, setiap melangkah 5 M pasti ada gerobak oskab atau bias juga warung oskab disepanjang jalan raya. Apalagi di kota besar sebesar Jakarta. 

Namun ditahun 2002an sampai 2009an oskab adalah barang langka, loh kok bisa?
Jadi ceritanya begini….pesantren identik dengan yang namanya kurungan. Semua santri tidak boleh keluar dari pesantren kecuali di hari Jumat itupun menggunakan quota. Jika quotanya cukup perizinan tidak lagi dibuka. Dan ketika keluarpun semua santri dilarang membeli makanan dalam bentuk apapun. Jika ketahuan bagian keamanan akan disita bahkan akan mendapat hukuman (kalau ketahuan). Tapi jarang sekali nggak ketahuan, aku sempat berfikir mungkin bagian keamanan di pesantren itu punya cctv kali ya, habisnya setiap berbuat *criminal* 90% bakal ketahuan.